Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang penuh berkah dan keistimewaan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Tahun 1937, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Malang. Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) tampil elegan dengan mendelegasikan drumband yang dipandegani oleh BANOE (Barisan Ansor NO). Seorang pemuda cakap, Hamid Rusydi, tampil jadi mayoret.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa umat manusia memasuki era baru, di mana batas antara dunia nyata dan dunia digital semakin kabur. Berbagai inovasi seperti chatbot, humanoid, hingga ekosistem digital telah membentuk lanskap sosial yang berbeda dari sebelumnya. Dalam konteks ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana Islam merespons perubahan ini? Apakah nilai-nila
Menghormati orang tua tidaklah memandang agama, suku, ataupun suku. Islam mengajarkan kepada kita supaya orang yang lebih tua dihormati sebab ia terlebih dahulu merasakan pahitnya hidup di dunia. Oleh karena itu hormatilah hormatilah orang yang lebih tua darimu, maka allah akan menghormatimu!
Saat ini kita melihat menemui beberapa orang di media sosial yang suka menjustifikasi ibadah seseorang. Masih ditemui juga seseorang yang yang masih mengkafirkan orang lain karena amalan ibadahnya tidak sama, seolah-olah amalan ibadah dialah yang paling benar.
Allah Swt. telah menciptakan kita sebagai manusia sebagai makhluk dengan bentuk yang sempurna. Hanya saja terkadang kita lupa bahwa bentuk yang sempurna ini digunakan untuk menciderai makhluk ciptaan Allah lainnya seperti hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya.
Puasa Ramadan bukan hanya sebuah ritual spiritual yang dimaksudkan untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga momen untuk menumbuhkan kesalehan sosial.
Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara melakukan benchmarking dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait penguatan sistem penanganan kasus kekerasan di lingkungan kampus pada Kamis (27/02).
Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jali gelar acara tahunan, yakni haflah akhirussanah. Wajah-wajah ceria terlihat dengan sangat jelas dari para santri. Hal itu disebabkan sebentar lagi mereka akan bertemu keluarga-keluarga mereka, baik di kota maupun di desa