Di balik sunyinya mushola selepas maghrib, di balik sepinya suara anak-anak mengaji di langgar desa, ada realitas menyedihkan yang jarang disadari oleh bangsa ini: guru ngaji yang tak digaji. Tak ada honor, tak ada tunjangan. Hanya secercah harap bahwa ilmu yang mereka ajarkan akan menjadi penerang bagi generasi mendatang. Tapi, apakah harapan cukup untuk membangun peradaban?
Table of contents [Show]
- 1 Ikhlas dan Ilmu: Antara Ideal dan Realita
- 2 Krisis Pengkaderan Ulama di Pelosok Negeri
- 3 Ilmu dan Ketakutan kepada Allah: Spirit Pengabdian yang Nyata
- 4 Peran Keluarga: Jangan Serahkan Semua pada Guru Ngaji
- 5 Dari Pesantren Tradisional hingga Harapan Baru
- 6 Arah Solusi: Pengkaderan Ulama sebagai Strategi Bangsa
- 7 Salam Hormat untuk Para Guru Ngaji
Ikhlas dan Ilmu: Antara Ideal dan Realita
Sudah sejak lama beredar adagium populer di masyarakat kita: “Mengajar agama harus ikhlas, tidak boleh mengharap bayaran.” Kalimat ini kerap dilontarkan oleh orang tua kepada para guru ngaji. Padahal mereka sendiri tidak mampu mengajari anaknya ngaji. Bahkan untuk membaca al-Qur’an pun banyak yang belum lancar. Di sisi lain, selepas bekerja seharian, mereka terlalu lelah untuk mendampingi pendidikan agama anak-anaknya.
Sementara itu, dari sudut pandang guru ngaji, mereka menghadapi dilema yang pelik. Ketika kebutuhan hidup mendesak, mereka pun memilih bekerja di kota demi mencukupi kebutuhan keluarga. “Silakan Bapak ajari anaknya sendiri dengan ikhlas, saya harus bekerja ke kota menafkahi anak istri saya,” demikian narasi batin yang menyayat hati.
Dan akhirnya, siapa yang menang? Game online, tontonan malam, dan lingkungan digital yang nihil nilai. Generasi muslim kita tumbuh tanpa guru, tanpa adab, tanpa Al-Qur’an. Mushola kembali sepi. Bukan karena Allah mati di hati manusia, tetapi karena manusia telah menutup ruang bagi-Nya hadir lewat para pengabdi ilmu yang tak dihargai.
Krisis Pengkaderan Ulama di Pelosok Negeri
Kondisi ini sejatinya adalah bom waktu yang siap meledak. Bukan hanya ancaman krisis moral, tapi juga krisis kepemimpinan spiritual. Ketika anak-anak tidak lagi belajar dari guru ngaji, siapa yang akan menjadi ulama masa depan? Siapa yang akan mengisi ruang-ruang pendidikan Islam dengan kebijaksanaan dan kasih sayang?
Data dari Kementerian Agama dan berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa ketimpangan distribusi tenaga pengajar agama sangat tinggi. Di kota, guru ngaji mulai dihargai dengan tunjangan dan insentif dari sekolah maupun yayasan. Tapi di kampung? Guru ngaji adalah petani, buruh, pedagang kecil yang menyelipkan waktu mengajar di sela-sela aktivitas mencari nafkah.
Mereka bukan hanya tak bergaji, tapi juga tak diperhatikan. Tidak ada program sistematis dari negara untuk membina dan menjamin keberlangsungan mereka. Padahal, merekalah garda terdepan pendidikan akhlak dan agama di akar rumput bangsa ini.
Ilmu dan Ketakutan kepada Allah: Spirit Pengabdian yang Nyata
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ulama orang berilmu adalah mereka yang paling peduli terhadap agama. Karena ilmu menumbuhkan tanggung jawab, dan rasa takut kepada Allah melahirkan kepedulian. Maka jangan heran bila hanya para guru ngaji yang tetap mau menghidupkan langgar, meski tak diberi apa-apa. Karena di hati mereka ada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta syafaqoh rasa sayang kepada umat.
Namun harus jujur dikatakan, sistem tidak bisa terus bergantung pada semangat pengabdian personal. Semangat itu bisa padam ketika ekonomi menindih. Maka ke depan, bangsa ini perlu menyusun ulang strategi pengkaderan ulama dan guru ngaji dengan lebih adil dan terencana.
Peran Keluarga: Jangan Serahkan Semua pada Guru Ngaji
Pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab guru ngaji. Justru yang paling utama adalah orang tua. قُوْ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka - QS. At-Tahrim: 6). Tapi ironisnya, orang tua hari ini menyerahkan sepenuhnya urusan ngaji ke luar rumah. Ketika guru ngaji pergi mencari nafkah karena tak bisa hidup dari mengajar, tak ada alternatif lain.
Anak-anak pun tumbuh dalam kehampaan rohani. Ini bukan soal kurangnya guru ngaji. Tapi karena tidak ada sistem yang menjamin keberadaan dan kesejahteraan mereka.
Para pendiri pesantren dulu tidak menunggu negara. Mereka menggunakan tanah sendiri, membangun dengan dana pribadi, dan menampung santri tanpa biaya. Sebagaimana yang dilakukan oleh banyak kiai-kiai lokal, termasuk Abah orang tua saya sendiri yang mendirikan pesantren dengan segala keterbatasan, demi satu hal: agar ilmu tidak mati di desa.
Kini, tren baru mulai tumbuh. Banyak pesantren dan madrasah diniyah yang dibangun dari donatur. Banyak guru ngaji yang mulai mendapat honor, tunjangan, dan pengakuan. Ini pertanda baik: kepedulian terhadap pendidikan agama mulai tumbuh. Namun sayangnya, tren ini baru terjadi di kota dan lingkungan menengah atas.
Sedangkan di pelosok, guru ngaji masih bertani, mencari kayu, menyabit rumput, lalu mengajar ngaji dengan perut kosong dan semangat penuh. Mereka adalah pahlawan senyap yang tak masuk televisi.
Arah Solusi: Pengkaderan Ulama sebagai Strategi Bangsa
Untuk menjawab persoalan ini, pendekatan akademis dan kebijakan publik harus sejalan. Pertama, pengkaderan ulama tidak bisa diserahkan semata kepada pesantren atau lembaga keagamaan. Negara harus hadir melalui:
1. Beasiswa kaderisasi ulama dari desa-desa pelosok, dengan jaminan penempatan kembali ke daerah asal.
2. Skema insentif dan dana desa yang memungkinkan honor rutin bagi guru ngaji dan pengajar diniyah.
3. Digitalisasi dakwah dan pengajaran agama yang bisa menjangkau anak-anak melalui media interaktif dan aplikasi ramah anak.
4. Mendorong kolaborasi antara masyarakat, donatur, dan BAZNAS/Laznas untuk menjamin kesejahteraan guru ngaji sebagai bentuk zakat profesi.
Di titik ini, jelas bahwa masalah guru ngaji tak digaji bukan soal ikhlas atau tidak ikhlas, tapi soal sistem dan visi bangsa. Jika bangsa ini ingin maju, maka fondasinya harus diperkuat dari akar: keluarga dan guru ngaji.
Salam Hormat untuk Para Guru Ngaji
Akhir kata, kepada para sahabat yang tetap mengajar ngaji di kampung tanpa bayaran, yang memilih pulang dari kota dan meninggalkan kemapanan demi menghidupkan musholla kecil: kalian adalah penjaga iman dan penjaga masa depan.
Semoga Allah merahmati perjuangan kalian. Dan semoga kita semua baik sebagai individu, orang tua, masyarakat, maupun negara tidak lagi menutup mata terhadap pentingnya pengkaderan ulama dan guru ngaji bagi masa depan bangsa.