Press ESC to close

Dilema Mahasiswa di Pusaran Realitas Sosial

Dunia kampus yang baru dijejaki beberapa bulan lalu bisa jadi adalah wujud nyata atas impian dan doa-doa kala SMA yang kala mendambakan masuk kampus A, B, C dan yang lain. Stigma awal tentang menjadi mahasiswa adalah keren, gaul, necis, atau stylis seperti yang ditampilkan di layar kaca dan sinetron-sinetron di TV.

Tapi sebagai manusia, acapkali mengalami kekecawaan adalah keniscayaan logis. Hal itu sudah menjadi semacam hukum alam manakala satu sisi berharap dan sisi lain kenyataan tak selaras sedikit pun dengan harapan atau bertolak belakang.

Hal itu amat mungkin dan bisa dikatakan iya sedang dialami oleh para mahasiswa baru. Adalah mereka yang baru beberapa bulan masuk kampus, yang mendambakan kampus seperti bayangkan kala menonton sinetron dan layar kaca, ternyata kampus yang mereka jejaki saat ini amat berbanding terbalik dengan yang mereka dermakan.

Saat di mana mereka dibebani tugas yang berjibun dari dosen kemudian jadwal yang serba tidak pasti, apalagi bila mendapat dosen terbang dan atau dosen senior yang disibukkan berbagai aktivitas luar kota. Rasanya kuliah menjadi satu kebingungan baru bagi para MABA.

Belum lagi ketika baru masuk, betapa banyak senior yang mendoktrin A, B, C untuk ikut salah satu organisasi ekstra atas dalih berbagai hal dan iming-iming tentunya turut membuat MABA bingung dan elus jidat.
Tapi yang lebih menarik lagi bila berbicara MABA angkatan 2019 adalah bagaimana mereka melihat dan menghadapi realitas sosial kisruh politik di Indonesia saat ini.

Mulai dari kasus rasisme Surabaya, kebakaran hutan di sumatera yang menimbulkan polemic hebat, Revisi UU KPK yang sudah ketuk palu, soal PB PMII yang menuding KPK Taliban, hingga demo besar-besaran di berbagai daerah merespon UU KPK turut menjadi sumbangsih kebingungan MABA dan menjadi tanda tanya besar bahwa What happened for Indoensia?

Dalam membaca realita politik dan sosial yang terjadi tentu perlu keahlian atau bahasa lebih halusnya skill. Hal semacam itu tak bisa ujuk-ujuk didapat dan dikuasai tanpa proses belajar, apalagi bagi mahasiswa baru yang kadang kali untuk membaca buku saja alergi.

Maka ayat Qur’an pun sejatinya sudah menyinggung, dan kiranya singgungan itu cocok ditujukan kepada MABA

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Q.S Al- Isra': 36)

Dari ayat itu tentu bahasa paling sederhananya bisa kita katakana bahwa jangan ikut-ikutan kalau memang tidak tau, apalagi dengan gagah mengomentari berbagai situasi politik dan realitas sosial yang terjadi seolah dirinya adalah pakar Ilmu Politik atau Pakar Hukum Tata Negara. Maka kata Al-Ghazali untuk menjadi orang awam pun kita perlu belajar.

Mengapa demikian, chaos yang terjadi selama ini salah satu penyebabnya adalah orang awam tidak mau belajar menjadi awam, atau tidak mau belajar jangan asal komentar segala kejadian yang terjadi di depan mata kalau memang bukan poksinya.
Maka penting kiranya diutarakan kepada MABA, bahwa merasa bangga menjadi mahasiswa tentu hal yang wajar tapi merasa bangga menebar komentar di media seolah dirinya paham tentu perlu di-refleksi-kan ulang, minimal agar tidak terjadi chaos bagi sosial atau malah dirinya sendiri.

Sebagai MABA yang baik dan bijaksana, sebelum berani dan gagah mengomentari segala realitas sosial, alangkah baiknya membaca banyak literature semisal buku, portal online, berita, untuk satu tahun ajaran akademik pertama. Barulah di semester tiga ikut organisasi ekstra untuk lebih menempah kemampuan diri yang di dasari pemantauan terhadap organisasi selama setahun awal.

Selamat menjadi mahasiswa, agen perubahan bagi rakyat. Dan yang paling penting di rubah adalah pola pikirnya bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan jika meminjam istilah Pram, dengan minimal menjadi netizen atau orang awam yang bijak.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Abdulloh Hamid, Dosen Muda UINSA Surabaya yang Gencar Kampanyekan Santri Melek Literasi Digital
Dari Kitab ke Cloud dan Jalan Panjang Santri Menuju Peradaban Dunia
Khoirul Adib, Kader Ansor dan Pegiat Dunia Santri Community, Raih Juara 1 Santri Berprestasi di Pesantren Award 2025
Kisah di balik Idul Adha: Urgensi Sertifikasi Al-Fatihah
@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.