Press ESC to close

Al-Ghazali di Tengah Paradoks Agama dan Sains

Sayyidina Ali pernah berpesan pada kita untuk belajar pada sejarah, karena sejarah akan mengulang dirinya sendiri. L’Histoire se Répète kata pepatah Prancis. Kali ini kita akan mencoba menggali hikmah dibalik pengulangan sejarah dalam konteks agamawan yang anti sains maupun sebaliknya.

Dalam kitab Al-Munqidh min ad-Dholal, Al-Ghazali sudah mewanti-wanti akan hal ini. Beliau berpesan ada dua kecelakaan peradaban yang harus kita hindari. Pertama, menanggalkan keimanan karena sains. Kedua, beriman namun anti terhadap sains. Sedang Al-Ghazali sendiri berdiri di tengah-tengah keduanya.

Artinya, sesungguhnya kehadiran agama dan sains tidak untuk dipertentangkan. Karena objek kajian keduanya jelas berbeda. Sains mengkaji material, sedang agama banyak mengkaji hal yang bersifat metafisik.

Perdebatan dua kubu tersebut sudah terjadi di era Hujjatul Islam bahkan terus berulang hingga hari ini. Oleh karenanya Al-Ghazali mewanti akan bahayanya kelompok yang memiliki semangat keagamaan tinggi namun minim secara keilmuan. Sehingga, semakin ia bicara sains, filsafat (Al Ulumu Riyadhiyat) yang kurang ia kuasai seperti perdebatan bumi bulat. Hanya akan menjadi bahan tertawaan para ilmuwan dan memperkuat dalih bahwa sains lebih hebat dari agama itu sendiri. Beliau mengatakan: “aduwwun ʿaqil khayrun min sadiqin jahil” (musuh yang cerdas lebih baik dari teman yang bodoh).

Imam Al-Ghazali mendudukkan sains dan agama pada porsinya masing-masing. Artinya beliau tidak menafikan kebenaran ilmu riyadhiyat; aritmatika, fisika, kimia, kedokteran. Meskipun beliau mengkritik para filsuf yang mempelajari sains dan gagal faham terkait ilmu ilahiyat yang jelas membutuhkan perspektif dan pendekatan berbeda dalam menilai keduanya.

Lebih jauh al-Ghazali bukan hanya menerima ilmu rasional seperti matematika, ia sendiri menulis beberapa karya logika seperti Miʿyar al-Ilm dan Mihakk al-Nazar, bahkan al-Ghazali adalah tergolong sarjana pertama yang menerima logika dan menggunakannya dalam ilmu usul al-fiqh. Bahkan dalam Miʿyar al-Ilm, ia sendiri mengulas prinsip-prinsip ilmu geometri Euclid seperti definisi titik, garis, bidang dan luas permukaan benda.

Yuval Noah Harari, profesor sejarah yang kontroversial tersebut menyebut istilah Homo Deus bagi manusia masa depan yang menguasai sains dan teknologi. Seolah kelompok agamawan yang tidak menguasai sains dan teknologi akan menjadi museum usang yang akan ditanggalkan oleh zaman. Hal ini menjadi kehati-hatian bagi generasi milenial dalam mempelajari sains modern kita harus bisa membedakan antara kebenaran sains dan ideologi yang berkepentingan di atas sains.

Sungguh sebagai umat Islam kita sangat bangga memiliki ulama sekaliber Al-Ghazali yang intelektualitasnya pilih tanding dan sangat produktif dalam mewariskan keilmuannya. Adil dan bijaksana dalam menempatkan segala sesuatu. Termasuk dalam hal ini mendudukan ilmu agama dan sains pada porsinya yang tidak seharusnya dipertentangkan atas nama logika dan iman. [HW]

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
Ngaji Adabu Sulukil Murid: Mengakui Kesalahan, dan Bertaubat kepada Tuhan.
Mengenal Mbah Bolong: Dari Panggung Dakwah, Pengasuh Pesantren hingga Mendirikan SMK Berprestasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.