Press ESC to close

13 Juni, Hari Lahir Sastrawan Ahmad Tohari dan Wafatnya Tokoh NU Betawi Mualim Radjiun

Berdasarkan "Ensiklopedia NU", hari ini, 13 Juni merupakan hari lahir Ahmad Tohari dan wafatnya Mualim KH. Muhammad Radjiun.

Ahmad Tohari merupakan seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sekarang berarti usianya memasuki 72. Sementara Mualim Radjiun merupakan tokoh NU di Betawi atau DKI Jakarta yang wafat pada 13 Juni 1982. Hari ini berarti haul ke-38.

Menurut "Ensiklopedia NU", Ahmad Tohari adalah seorang pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Namun, ia membuktikan mampu melahirkan karya-karya yang berkualitas.

Di antara karyanya adalah Kubah (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jentera Bianglala (novel,1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyurn Karyarnin (kumpulan cerpen,1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (kurnpulan esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (kumpulan esai, 1997); Nyanyian Mularn (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang-orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004).

“Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga sangat unik. Di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai abangan plus simpatinya yang mendalam. la memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya,” tulis Ensiklopedia NU.

Sementara Mualim Radjiun sosok yang diakui Mualim KH. Syafi’i Hadzami dan KH. Zainuddin MZ sebagai gurunya. Ia lahir di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada 1916. Pada masa mudanya ia menimba ilmu dari beberapa ulama Betawi, di antaranya Guru Manshur Jembatan Lima dan Guru Abdul Madjid Pekojan (kedunya tokoh NU Betawi). Kemudian bersama adiknya, Hasanat, pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama.

“Setelah belasan tahun di Makkah, Mualim Radjiun kembali ke tanah air dan bergabung dengan beberapa teman serta juniornya di Jam`iyatul Qurra wal Huffazh, organisasi yang menaungi para qari dan penghafal Al-Quran, antara lain: KH. Tb. Mansur Ma`mun, KH. Shaleh Ma`mun Serang, Banten, KH. Abdul Hanan Said, KH. Abdul Aziz Muslim. Beliau juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama),” tulis situs MUI DKI Jakarta. [HW]

 

Penulis: Abdulloh Zuma

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Mengenang 96 Tahun KH M Mashum Ali WafatPendiri Pesantren Seblak, Penggerak NU dan Tasrifan Jombangan
KH. Abdul Muhith dalam Sejarah Pendirian Ma'ahid dan TBS
Mengenal Mbah Bolong: Dari Panggung Dakwah, Pengasuh Pesantren hingga Mendirikan SMK Berprestasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.