Press ESC to close

Jejak Hijrah, Jejak Perjuangan Hidupkan Cahaya Dakwah

  • Jun 15, 2026
  • 3 minutes read
  • 16 Views

Karya Tulis, (Pesantren.Id) — Di balik datangnya Tahun Baru Hijriyah, sesungguhnya ada pesan besar yang sering kali luput dari perhatian kita: tentang keberanian untuk berubah, keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran, dan keikhlasan dalam mengorbankan kenyamanan demi ridha Allah. Hijrah Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, tetapi perjalanan penuh luka, air mata, ancaman, dan pengorbanan yang menjadi tonggak kebangkitan Islam. Rasulullah SAW meninggalkan tanah kelahiran yang beliau cintai bukan karena mencari dunia, melainkan demi menjaga cahaya dakwah agar tetap hidup di muka bumi.

Momentum Muharram seharusnya tidak hanya berhenti pada seremonial, pawai, festival, atau tradisi tahunan semata. Semua itu tentu layak diapresiasi sebagai bentuk kecintaan umat terhadap syiar Islam. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat hijrah itu benar-benar masuk ke dalam hati dan perilaku kita. Sebab hijrah yang paling sulit bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari malas menjadi ikhlas, dari lalai menjadi sadar, dari cinta dunia menuju cinta akhirat.

Ketika kita membaca sejarah perjuangan Rasulullah SAW, rasanya malu jika hari ini kita merasa sudah banyak berjuang untuk Islam hanya karena menulis satu dua status, menghadiri satu majelis, atau berbicara sedikit tentang agama. Padahal Rasulullah SAW menghadapi hinaan, boikot, ancaman pembunuhan, bahkan harus kehilangan orang-orang tercinta dalam perjalanan dakwahnya. Dalam perang Badar beliau sampai berdoa dengan penuh harap:

“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.”

Doa itu menunjukkan betapa beratnya perjuangan menjaga agama ini tetap hidup. Islam yang hari ini kita rasakan dengan nyaman ternyata dibangun di atas pengorbanan luar biasa para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh terdahulu.

Hari ini dakwah jauh lebih mudah. Mikrofon sudah tersedia, kendaraan siap mengantar, media sosial bisa menjangkau ribuan manusia hanya dalam hitungan detik. Tetapi ironisnya, kemudahan itu terkadang tidak sebanding dengan kesungguhan kita. Ada yang mudah mengeluh saat diminta berdakwah, ada yang lebih sibuk mencari pujian manusia daripada mencari ridha Allah, bahkan ada yang tanpa sadar merendahkan nilai-nilai Islam demi diterima lingkungan. Padahal perjuangan kita masih belum ada apa-apanya dibanding perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Karena itu, Muharram seharusnya menjadi waktu untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sudah aku berikan untuk Islam?”

Kalau belum mampu berdakwah dengan ilmu, mungkin kita bisa dengan tenaga. Kalau belum mampu dengan tenaga, mungkin dengan harta. Kalau belum punya semuanya, setidaknya dengan akhlak yang baik dan doa yang tulus. Seorang ayah bisa berdakwah kepada keluarganya dengan kasih sayang dan teladan. Guru berdakwah lewat kesabaran mendidik muridnya. Dosen melalui ilmu dan integritasnya. Pemimpin melalui keadilan dan kebijaksanaannya. Bahkan senyuman, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama pun bisa menjadi bagian dari dakwah.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa dakwah bukan sekadar berbicara, tetapi memahami manusia yang diajak berbicara. Beliau bersabda:

خَاطِبُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

“Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar kemampuan akal mereka.”

Karena itu dakwah harus menghadirkan kelembutan, bukan hanya semangat. Anak-anak membutuhkan bahasa yang hangat, masyarakat awam membutuhkan penjelasan yang sederhana, sedangkan kalangan intelektual membutuhkan dialog dan pemikiran yang mendalam. Dakwah bukan tentang merasa paling benar, tetapi tentang bagaimana kebenaran itu sampai dengan cara yang menenangkan hati.

Tahun Baru Hijriyah juga mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang istiqamah. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Sebab para sahabat pun dahulu bukan manusia tanpa dosa, tetapi mereka adalah manusia yang mau terus belajar, berjuang, dan memperbaiki diri di jalan Allah.

Maka di tahun baru ini, mari berhijrah perlahan. Hijrah dari hati yang mudah mengeluh menuju hati yang pandai bersyukur. Hijrah dari ibadah yang lalai menuju ibadah yang lebih tulus. Hijrah dari merasa paling baik menuju lebih banyak introspeksi diri. Sebab boleh jadi yang membuat seseorang mulia di sisi Allah bukan karena banyak bicara tentang agama, tetapi karena diam-diam ia menjaga keikhlasan dalam memperjuangkannya.

Muharram bukan sekadar pergantian angka tahun. Ia adalah panggilan jiwa untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan Rasulullah SAW di zaman yang semakin sibuk mengejar dunia, namun sering lupa tujuan pulangnya.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Jalan Kesejatian: "Esse Quam Videri"
Refleksi Tahun Baru Hijriyah: Memperkokoh Dua Tugas Utama Pesantren
Jejak di Atas Jembatan Mustaqim
Ketika Ibn Hajar “Goes West”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.