Musyawarah Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Situbondo sukses digelar dengan suasana penuh khidmat. Dalam forum tersebut, dua tokoh kiai yang disegani resmi ditetapkan sebagai pucuk pimpinan JATMAN masa khidmat 2025–2029. KH Imam Qusyairi Syam dipercaya menjadi Rais Idarah, sementara KH M. Hasan Nailul Ilmi diamanahi sebagai Mudir Idarah.
Sejarah awal mula perkembangan NU memang tidak bisa dilepaskan dari “Komite Hijaz”, yaitu sebuah kepanitiaan kecil (komite) yang dibentuk untuk pergi berlayar ke Hijaz dengan tujuan bertemu dengan Raja Abdul Aziz al-Saud (sebagai penguasa baru Hijaz), guna menyampaikan amanat dan membawa misi perjuangan umat Muslim Nusantara untuk melestarikan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Dalam suasana haru dan penuh makna di Aula Nyai Hj. Halimatus Zakiyah, Sabtu (07/06/2025), KH. Yazid Karimullah, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember menyampaikan pesan mendalam kepada para wali santri yang hadir untuk menjemput putra-putrinya dengan status rekomendasi pulang. Bukan sekadar seremonial, momen ini menjadi ruang perenungan bagi para orang tua tentang arti sebuah amanah.
Membaca Al-Fatihah dengan benar sangat penting, karena merupakan salah satu rukun shalat. Jika bacaan Al-Fatihah salah, shalat bisa menjadi tidak sah atau batal.
Ibadah kurban bukan sekadar ritual, melainkan juga proses biologis yang sangat ilmiah. Pernahkah kita berpikir, bagaimana tubuh hewan bisa tetap “hidup” sesaat setelah disembelih? Atau kenapa daging kurban bisa lebih awet dan sehat jika disembelih sesuai syariat? Jawabannya terletak pada kerja para enzim dan proses biologis yang disebut apoptosis atau kematian sel yang terprogram.
Menurut Gus Ulil, akan sangat sulit untuk memberikan sesuatu kepada seseorang yang lebih membutuhkan daripada Anda sendiri. Memberikan sesuatu yang Anda tidak terlalu membutuhkannya berbeda dengan memberikan sesuatu kepada orang lain.
Fenomena dikotomi antara dunia pesantren dan masyarakat luar bukanlah hal baru dalam dinamika sosial keagamaan di Indonesia. Ketegangan ini kian terasa ketika kedua belah pihak membangun narasi eksklusif yang saling menegasikan. Di satu sisi, sebagian kalangan pesantren cenderung memandang dunia luar dengan kecurigaan. Di sisi lain, masyarakat luar pun kerap menggeneralisasi pesantren secara negat